Jumat, 22 Februari 2013

Etika ber-HP

21 Januari 2013 21:09 WIB
Dibaca: 319
Penulis : Parmiyatun, S. Sos. I.

بسم الله الرحمن الرحيم
 
 
Duuuuts… ha…ha…ha…
Orang-orang clingak-clinguk dari tempat duduknya di dalam angkot “Hallo…oh…ya…bla…bla……” Baru semua tahu, Astaghfirullah, ternyata ringtone Hp, dikira (maaf) orang kentut!
 
Allaahu Akbar  Allaaaaahu Akbar   lho…lho…kok.. jam segini sudah masuk waktu ashar
Orang-orang clingak-clinguk dari meja kerjanya di dalam kantor  “Hallo…oh…ya…bla…bla……”  Baru semua tahu, Oh..oh..oh.., ternyata ringtone Hp, dikira panggilan dari Allah untuk menunaikan shalat ashar!

Perkembangan Iptek per-Hp-an memang sangat menggembirakan, dari segi teknologi. Mulai dari perkembangan teknologi Hp-nya sendiri. kian hari Hp semakin lengkap fiture-fiturenya. Perkembangan ringtone juga tak kalah ketinggalan. Begitupun jenis dan jasa penyedia voucher tumbuh bak jamur di musim hujan.
 
Pendek kata, hal ini juga membuka peluang-peluang bisnis bagi yang pandai menangkap peluang dan dapat memanfaatkannya. Tentu merupakan hal yang menggembirakan apabila dapat membuka kesempatan kerja atau memudahkan dalam aktivitas.
 
Bukankah tulisan ini pun mungkin anda baca menggunakan HP --yang terkoneksi ke internet-- ?
 
Disisi lain, seiring dengan perkembangan Iptek Hp, tentu dibutuhkan kesiapan-kesiapan mental, kematangan sikap dan rasa tanggung jawab dalam bersikap dan ber-Hp, sehingga dapat memfilter hal-hal yang berdampak negatif.

Perlu kritisi-kritisi tersendiri bagi orang tua, guna memberikan pemahaman-pemahaman kepada putra-putri dalam etika ber-Hp, mengingat saat ini Hp tidak hanya dimanfaatkan oleh orang dewasa, tetapi dikalangan tertentu sudah menjadi bagian gaya hidup putra-putri kita yang masih SD.

Sebagai mukmin yang muttaqin, barangkali kita sepakat apabila etika ber-Hp juga memerlukan kritisi, pencermatan, dan sikap yang penuh tanggung jawab, antara lain dalam hal :


1. Ringtone
Sebagai hamba Allah, manusia adalah merdeka, bebas memilih. Mau memilih hal-hal yang jelek “monggo” mau memilih hal-hal yang baguspun “silahkan”. Sebagai mukmin muttaqin, tentu kita selektif terhadap sesuatu hal. Tak terkecuali dalam hal ringtone. Seperti ringtone (maaf) kentut atau orang muntah misalnya. Tentu ini hal konyol dan kurang pantas, seandainya dibawa-bawa dekat banyak orang atau diantara orang-orang sedang makan. Tidakkah kita khawatir sedikit demi sedikit akan mengikis rasa sopan santun? Lebih-lebih dikalangan putra-putri kita? Q.S At-Tahrim: 6

Juga ringtone Adzan. Adzan adalah panggilan shalat dari Allah. Apakah kita menyamakan teman, saudara, dan lain-lain (manusia) sama dengan Allah sehingga panggilannya kita samakan dengan panggilan Adzan? Bagaimana pula bila nanti dapat mengecoh teman/ saudara kita yang lain untuk shalat atau berbuka puasa? Lantaran mendengar ringtone Adzan (dikira Adzan beneran) padahal bukan, dan bukan waktunya pula?! Kiranya sudah semestinya bila kita harus hati-hati dalam menggunakan simbol-simbol keagamaan.

2. Do’a dan Ayat-ayat Suci Al-Qur’an
Dewasa ini telah banyak pula do’a-do’a dan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdapat dalam Hp. Hp dalam kondisi off (mati) tak ubahnya seperti barang mati lainnya. Tetapi dalam kondisi on (nyala) dapat menampilkan ayat-ayat Al-Qur’an seperti bacaan Basmallah atau do’a-do’a.  Bila demikan adanya, hendaknya Hp dimatikan dahulu bila akan masuk kamar mandi/ WC. Hal ini sebagai adab yang perlu diperhatikan saat kita bersinggungan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia
.
3. SMS
Dewasa ini SMS juga merupakan cara praktis dan mudah dalam menyampaikan memo. Kepraktisan dan kemudahan ini, sudahkah kita manfaatkan dengan semestinya?
Bukankah dengan menggunakan SMS Gateway kita bisa mengirim sebuah pesan ke beberapa tujuan hanya sekali kirim. Namun kita juga bisa --dengan menggunakan software tertentu-- hanya dengan sekali kirim mengirim 50 sampai 100 SMS yang sama ke nomor tertentu, sehingga HP penerima SMS tersebut kemungkinan akan hang karena kebanyakan menerima SMS.
Tidakkah kita terseret dalam keisengan-keisengan ber-SMS dan hal-hal yang mubadzir ? Tindakan iseng dan mubadzir, sesungguhnya dapat membawa kita menjadi teman syaithan.
 
Perlu kita sadari keisengan dan mubadzir, dapat berdampak pada tindakan boros dan kadang kala juga dapat membawa kerugian bagi orang lain. Misalnya kata-kata “sayang” yang tidak tepat, dalam ber-SMS (karena iseng dan canda) dapat menimbulkan bentrokan-bentrokan pada sebuah keluarga. Suami istri dapat ribut besar karena hal tersebut. Naudzubillah, bila kita menjadi pemicu rusaknya silaturahim.
 
4. Waktu ber-HP
Hal yang tidak kalah penting yang perlu mendapat perhatian kita, adalah waktu ber-Hp baik melalui SMS atau Calling. Bukankah ber-SMS atau Calling tak ubahnya seperti bertamu? Apakah kita akan tetap bertamu disaat-saat waktu shalat?  Waktu-waktu tengah malam?  Lebih-lebih bila hanya sekedar urusan biasa, urusan bisnis, lebih dari jam 10 malam? Urusan-urusan kurang penting? Mungkin masih dapat diterima bila hal tersebut memang benar-benar urgen. Seperti kematian misalnya atau sakit gawat. Dan lain hal yang benar-benar mangharuskan kita untuk ber-SMS dan ber-Hp, dan tidak bisa ditunda.
 
Dari itu semua,  tidakkah kita ingin menampilkan sikap yang terindah dari perilaku kita?
 
Bukankah itu semua pencerminan kualitas akhlaq kita ??
 
 
   Wallahu ‘alam bis-Shawwab
 

Sabtu, 02 Februari 2013

Ojo krayake Valentine

Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

larangan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

larangan Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti

Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

larangan Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz DzimmahAsy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.” (1/441,

larangan Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

larangan Keenam: Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.”Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

>.