Banyak orang didunia ini, salah memahami arti kekayaan sehingga dia
begitu gampang tergoda untuk mencari harta tanpa memperhatikan cara yang
benar menurut agama atau menurut ukuran etika secara universal.
Kekayaan itu hanya diidentikan dengan kepemilikan harta yang banyak,
lalu dia menempuh berbagai cara untuk memperolehnya. Tapi setelah
memperolehnya harta itu lalu digunakan untuk memuaskan kebutuhan
nafsunya, dihambur-hamburkan untuk membeli harta yang banyak, wanita
dll. Yang justru mendatang dosa dan mala petaka. Bahwa memliki harta
yang banyak dan mencari rizki yang banyak itu sebuah keniscayaan yang
dimungkinkan oleh agama, namun dalam mencari itu harus dalam perspektif
dalam rangka beribadah kepada Allah.
Siapakah orang yang paling kaya di dunia saat ini?
Sering kali kita, mendapatkan informasi tentang ranking orang kaya
sedunia, atau rangking orang kaya se Indonesia. Sehingga banyak orang
lalu secara serius dengan berbagai cara mencari kekayaan itu. Dipuncak
kekayaan mereka seringkali mereka melontarkan kata-kata bijak, bahwa
yang kita kejar itu bersifat fata morgana , bayang-bayang, puncak
kekayaan itu adalah ketika kita mau menerima sesuatu secara ikhlas atas
apa yang kita dapatkan.
KONSEP KAYA MENURUT SYARIAT
Orang paling kaya, jika diukur dengan timbangan syariat, adalah: orang yang paling bisa menerima.
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,
لَيْسَالْغِنَىعَنْكَثْرَةِالْعَرَضِ،وَلَكِنَّالْغِنَىغِنَىالنَّفْسِ
“Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang
hakiki adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim; dari Abu
Hurairah)
Kaya hati, atau sering diistilahkan dengan “qana’ah“, artinya adalah
‘nrimo (menerima) dan rela dengan berapa pun yang diberikan oleh Allah
Ta’ala.
Berapa pun rezeki yang didapatkan, dia tidak mengeluh. Mendapat rezeki
banyak, bersyukur; mendapat rezeki sedikit, bersabar dan tidak
mengumpat.
Andaikan kita telah bisa mengamalkan hal di atas, saat itulah kita bisa
memiliki kans besar untuk menjadi orang terkaya di dunia.
Ujung-ujungnya, keberuntunganlah yang menanti kita, sebagaimana janji
Sang Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam,
قَدْأَفْلَحَمَنْأَسْلَمَوَرُزِقَكَفَافًاوَقَنَّعَهُاللَّهُبِمَاآتَاهُ
“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan
dia dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah (kepadanya).”
(HR. Muslim; dari Abdullah bin ‘Amr)
Berdasarkan barometer di atas, bisa jadi orang yang berpenghasilan dua
puluh ribu sehari dikategorikan orang kaya, sedangkan orang yang
berpenghasilan dua puluh juta sehari dikategorikan orang miskin.
Pasalnya, orang pertama merasa cukup dengan uang sedikit yang
didapatkannya. Adapun orang kedua, dia terus merasa kurang walaupun uang
yang didapatkannya sangat banyak.
Bagaimana mungkin orang yang berpenghasilan dua puluh ribu dianggap
berkecukupan, padahal ia harus menafkahi istri dan anak-anaknya?
Ya, selain karena keberkahan yang Allah limpahkan dalam hartanya, juga
karena ukuran kecukupan menurut Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah sebagai berikut,
مَنْأَصْبَحَمِنْكُمْآمِنًافِيسِرْبِهِ،مُعَافًىفِيجَسَدِهِ،عِنْدَهُقُوتُيَوْمِهِ،فَكَأَنَّمَاحِيزَتْلَهُالدُّنْيَا
“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya,
sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan
ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh
Al-Albani)
Kiat membangun pribadi yang qana’ah
Di antara resep sukses membentuk jiwa yang qana’ah adalah dengan
melatih diri untuk menyadari seyakin-yakinnya bahwa rezeki hanyalah di
tangan Allah dan yang kita dapatkan telah dicatat oleh Allah Ta’ala,
serta tidak mungkin melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun
kita pontang-panting dalam bekerja.
Allah Ta’ala mengingatkan,
وَمَامِندَآبَّةٍفِيالأَرْضِإِلاَّعَلَىاللّهِرِزْقُهَا
“Tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah.” (QS. Hud:6)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan,
إِنَّأَحَدَكُمْلَنْيَمُوْتَحَتَّىيَسْتَكْمِلَرِزْقَهُ،فَلاَتَسْتَبْطِئُواالرِّزْقَ،وَاتَّقُوااللهَأَيُّهَاالنَّاس،وَأَجْمِلُوْافِيالطَّلَبِ،خُذُوْامَاحَلَّوَدَعُوْامَاحَرُمَ
“Sesungguhnya, seseorang di antara kalian tidak akan mati kecuali
setelah dia mendapatkan seluruh rezeki (yang Allah takdirkan untuknya)
secara sempurna. Maka, janganlah kalian bersikap tidak sabaran dalam
menanti rezeki. Bertakwalah kepada Allah, wahai manusia! Carilah rezeki
secara proporsional, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”
(HR. Al-Hakim; dari Jabir; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Buah manis qana’ah
Sebagai suatu karakter yang terpuji, qana’ah dapat menumbuhkan sifat-sifat positif, Di antaranya:
Pertama: Qana’ah menjadikan seseorang tidak mudah tergiur untuk memiliki harta yang dimiliki orang lain.
Dia merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya, sehingga dia selalu
hidup dalam ketenteraman dan kedamaian batin. Dia tidak pernah iri
maupun dengki dengan kelebihan nikmat yang Allah limpahkan pada orang
lain.
Karakter istimewa inilah yang Allah rekam sebagai salah satu perangai
para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala Dia
menceritakan kondisi mereka yang fakir,
يَحْسَبُهُمُالْجَاهِلُأَغْنِيَاءمِنَالتَّعَفُّفِتَعْرِفُهُمبِسِيمَاهُمْلاَيَسْأَلُونَالنَّاسَإِلْحَافاً
“(Orang lain)–yang tidak tahu–menyangka bahwa mereka adalah orang-orang
kaya, karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai
Muhammad), mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta
dengan cara mendesak kepada orang lain.” (QS. Al-Baqarah:273)
Kedua: Qana’ah menempa jiwa seseorang untuk tidak mengadu tentang
kesusahan hidupnya melainkan hanya kepada Allah Yang Mahakaya.
Inilah salah satu tingkatan tawakal tertinggi, yang telah dicapai oleh
para nabiyullah. Sebagaimana yang Allah ceritakan tentang Nabi Ya’kub
‘alaihis salam,
قَالَإِنَّمَاأَشْكُوبَثِّيوَحُزْنِيإِلَىاللّهِ
“Dia (Ya’kub) berkata, ‘Hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’” (QS. Yusuf:86)
Mengapa para kekasih Allah hanya mengadu kepada-Nya? Karena keyakinan
mereka yang begitu mendalam bahwa dunia seisinya tidak lain hanyalah
kepunyaan Allah. Lantas mengapa tidak meminta saja kepada Yang Maha
Memiliki segalanya, dan kenapa harus meminta kepada zat yang apa yang
dimilikinya tidak lain hanyalah bersumber dari Yang Maha Memiliki?
Namun, realita berkata lain. Rata-rata, kita masih lebih suka mengetuk
pintu para makhluk sebelum mengetuk pintu Sang Khalik. Karena itulah,
para ulama mengingatkan, “Siapakah di antara kita yang meminta
kebutuhannya kepada Allah sebelum ia memintanya kepada manusia?”
Qana’ah bukan berarti tidak berikhtiar.
Qanaah itu harus dipahami dalam perspektif produktif. Qanaah itu
setelah berikhtiar Sehingga, sehingga orang lalu tidak boleh duduk
berpangku tangan saja karena Rasulullah menyatakan bahwa Allah tidak
pernah melemparkan emas dan perak dari langit, ketika beliau menegur
seorang sahabat yang hanya berdzikir saja dalam masjid.
Qana’ah tidaklah seperti itu, karena qana’ah maksudnya: seorang hamba
bekerja semampunya dengan tetap memperhatikan rambu-rambu syariat.
Setelah itu, berapa pun hasil yang didapatkan dari kerjanya, diterimanya
dengan penuh rasa ridha tanpa menggerutu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hakikat tawakal dan
korelasinya dengan ikhtiar, dalam sebuah perumpamaan yang sangat detail,
لَوْأَنَّكُمْكُنْتُمْتَوَكَّلُونَعَلَىاللَّهِحَقَّتَوَكُّلِهِلَرُزِقْتُمْكَمَايُرْزَقُالطَّيْرُتَغْدُوخِمَاصًاوَتَرُوحُبِطَانًا
“Andaikan kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya kalian
akan mendapatkan rezeki sebagaimana burung memperoleh rezeki. Dia pergi
di pagi hari dalam keadaan perut kosong, lalu pulang di sore harinya
dalam keadaan perut kenyang.” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkomentar
bahwa hadis ini hasan sahih)
Ya, tentunya supaya burung bisa memenuhi perutnya, ia harus “mencari
nafkah”! Dan inilah tawakal yang sebenar-benarnya; berikhtiar lalu
hasilnya serahkan pada Allah ta’ala.
Wallahu a’la wa a’lam…
Kamis, 18 Juli 2013
Langganan:
Postingan (Atom)

