Kisah kesulitan dan keterlilitan ekonomi yang dialami penduduk Gaza, bukanlah cerita baru. Sudah berpuluh-puluh tahun penduduk Gaza berada dalam ketidaktenangan hidup. Bagaimana cara para wanita Gaza, mencari jalan keluar dari kondisi mencekik itu? Bagaimana dengan berbalut kesabaran dan keyakinan, mereka berpikir kreatif untuk bertahan hidup? Ketiadaan banyak penopang hidup di Gaza, di tambah hancurnya infrastruktur kota akibat serangan zionis Israel, mendorong penduduk Gaza untuk berpikir menciptakan ide mencari nafkah untuk menyambung hidup. Di Gaza, karunia Allah swt kembali terbaca. Meski dengan kerja keras dan di tengah kondisi sulit, kaum wanita Gaza membuktikan ketangguhan mereka membiayai sebagian kebutuhan makan hingga pendidikan anak-anak mereka. Apalagi dengan kondisi sebagian besar suami tak lagi mendapat lahan pekerjaan, kaum wanita Gaza pun memunculkan beragam inisiatif untuk meringankan kesulitan yang mereka alami.
Dari Pakaian Sampai Roti Kacang
Perempuan Gaza, dan umumnya penduduk Gaza, tidak mengandalkan belas kasih berbagai lembaga sosial kemanusiaan yang memberi bantuan sementara untuk mereka. Mereka bahkan melarang anak-anaknya untuk meminta-minta di jalanan. Siapapun yang hadir di Gaza, akan merasakan bagaimana mereka memelihara harga diri, dari meminta dan bahkan menerima bantuan.
Raneya, seorang ibu usia 30-an tahun, tampak sedang duduk di bawah sebuah tenda di pinggir pantai. Ia tekun menjahit sebuah baju indah untuk anak-anak, dengan jahitan tangan. Raneya terdesak untuk mengandalkan kemampuan menjahitnya yang sama sekali tak ia duga. Dalam pikirannya, ia hanya ingin mendapatkan uang dengan cara mulia, karena suaminya tak bisa bekerja seperti ribuan orang suami di Gaza. Sambil menjahit pakaian anak siang itu, Raneya mengatakan, ”Setelah suami saya tidak bisa bekerja, dan dalam situasi kami harus memenuhi kebutuhan mendasar untuk anak-anak, tak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali mengembangkan kemampuan menjahit ini.” Ia melanjutkan, ”Pekerjaan menjahit seperti ini berdasarkan order atau pesanan orang sesuai keinginan mereka. Hasil menjual baju bisa digunakan untuk mengatasi kebutuhan keluarga kami yang banyak.”
Kemahiran menjahit Renaya memang muncul dari kondisi ekonominya yang sudah sulit di Gaza, sehingga sejak lama ia biasa menjahit kembali pakaian bekas untuk anak-anaknya lantaran tidak mampu membelikan pakaian baru. Modal menjahit yang sangat sederhana itu, kemudian berkembang dengan naluri wanitanya, untuk membuat hiasan di pakaian anak-anaknya, agar pakaian itu terlihat seperti baru. Beberapa tetangga rumah melihatnya kemudian sangat tertarik dan mengatakan pakaian itu sangat bagus. ”Mereka bertanya, dari mana membeli pakaian seperti itu.. ? Mereka terkejut ketika aku jawab bahwa pakaian itu adalah hasil jahitan sendiri,” kisah Renaya.
Ketertarikan tetangga itu, membuat Raneya lebih percaya diri untuk memulai pekerjaan menjahit secara lebih serius. Apalagi ketika situasi kritis secara ekonomi makin sulit diajak kompromi, dan sang suami nyaris tak bisa mendapatkan lahan bekerja. ”Saya tak ingin menunggu belas kasih sumbangan lembaga sosial yang mungkin saja datang membantu,” ujar Renaya. Renaya menjahit beragam pakaian anak-anak sementara sang suami menjadi pemasaran produknya. Menurutnya, tahun lalu pendapatannya dari menjahit tak sebaik belakangan ini, khususnya ketika trend harga pakaian jahit memang tinggi di pasar. ”Tetangga kami lebih memilih menjahit pakaian ke sini, karena di sini lebih murah harganya dan kualitasnya juga tidak buruk,” ujar Renaya. Jahitan berkualitas, harga murah, motif hiasan sesuai selera, itulah tiga hal kelebihan produk jahitan Renaya hingga kini keluarganya bisa mendapatkan biaya hidup. Apa yang dialami Renaya, tak jauh berbeda dengan kondisi Ummu Hilmi. Ibu yang berasal dari Selatan Khan Yunis ini juga kian tercekik ekonomi keluarganya, setelah sang suami tak bisa lagi mendapatkan pekerjaan. Untuk membiayai kehidupan keluarganya, berikut 10 putra putrinya, Ummu Hilmi harus kreatif mencari ide. Ia tetap melarang semua keluarganya dari meminta-minta apalagi menunggu bantuan orang lain. Ia juga tidak mau tunduk di hadapan tembok pembatas Israel yang kerap disebut tembok putus asa. ”Kondisi hidup yang sulit, memerlukan jiwa yang pantang menyerah. Khususnya bila kita memiliki anak-anak yang harus dipenuhi kebutuhannya. Kita tidak boleh menyerah, tunduk, bersedih dan lari dari tanggung jawab,” ujar Ummu Hilmi. Ia lalu menceritakan bagaimana keteguhan hatinya itu bisa membawanya bekerja sejak pagi buta hingga malam hari, sekitar pukul sembilan malam. Di waktu subuh, ia bangun mempersiapkan adonan roti kacang dengan tangannya, tanpa alat mesin. Adonan kue kacang itu kemudian ditambah dengan sedikit kismis, hingga akhirnya pada jam tujuh pagi bisa disajikan untuk dijual. Penjualan pukul tujuh pagi dianggap baik, karena bertepatan dengan jam masuk anak sekolah dan waktu orang memerlukan makanan. Anaknya, Mahmud, menata kue ke depan rumah lalu menambahkan beberapa sayuran pada roti kacang itu hingga seperti sandwich. ”Semua keluarga kami bekerja sejak pagi,” sela Ummu Hilmi. Anak-anaknya sejak sebelum subuh sudah bangun dan membantu membuat roti sampai waktu sekolah. Sebelum berangkat, hasil adonan dilanjutkan oleh orang tua mereka hingga siap dijual di depan rumah. Di sela waktu berjualan, ia membereskan rumah termasuk mencuci pakaian. Guratan kedukaan Ummu Hilmi kian terlihat saat matanya berkaca-kaca sambil mengatakan,”Sebenarnya, dengan hanya berjualan roti kacang saja sangat jauh dari mencukupi kebutuhan harian keluarga. Itu sebabnya, seluruh anggota keluarga diminta terlibat mencari uang melalui pintu rizki yang lain.” Selain berjualan roti kacang, Ummu Hilmi dan anak-anaknya yang berjumlah lebih dari lima orang, juga membuat kerajinan tangan dari anyaman bambu atau plastik untuk dijual. Tak hanya itu, Ummu Hilmi juga membeli beberapa ekor ayam kampung yang dipelihara dan sebagian dimasak dengan campuran bumbu yang enak. “Semua ini saya lakukan untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan. Terutama untuk memenuhi kebutuhan transportasi setiap hari putri saya yang masih kuliah,” jelas Ummu Hilmi. Berdo’alah untuk kesabaran dan kekuatan penduduk Gaza... (asj/knrp.or.id)
Rabu, 12 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar
your mind..